Aku untuk Adikku (3)

November 29, 2008

Dik,

Tahukah kau dik, kita terlahir ke dunia ini dengan risiko yang teramat berat, taruhannya berupa dua nyawa (ibu kita yang selamat atau kita). Sebuah keluarbiasaan Tuhan kita bisa terlahir dan menyaksikan senyum ibu kita sekarang. Jika kelahiran kita sudah merupakan sebuah risiko yang teramat besar, mengapa kita takut mengambil risiko hidup sekarang?

Dik,

Jangan pernah ada ketakutan dalam dirimu kecuali takut pada Tuhanmu. Ambil semua risiko  kehidupanmu asalkan kau dapat mengukur kemampuanmu. Dan jadilah kau manusia yang luar biasa. Jangan pernah takut gagal, karena keberhasilan dibangun atas pondasi kegagalan. Tidak mungkin seorang-orang mengatakan dirinya berhasil kalau ia tak pernah merasakan kegagalan.

Dik,

Bermimpilah yang indah, kemudian bangun dirimu meraih mimpimu itu. Impianmu akan membangun duniamu, jika ia kau yakini, kau perjuangkan, dan kau pasrahkan padaNya. Mimpimu adalah kuncimu untuk menaklukkan duniamu.

Aku untuk Adikku (2)

November 10, 2008

Dek,

Terdapat 3 hal di dunia ini yang apabila sudah dilepaskan tidak dapat ditarik kembali. Pertama, sinar matahari yang sudah sampai ke bumi. Matahari tidak akan menarik kembali sinar yang telah dipancarkan, ia memberi terang dan kehangatan bagi dunia tanpa harapan untuk kembali, karena matahari adalah kuasa Tuhan bagi duina seisinya.

Kedua, anak panah yang telah dilepaskan dari busurnya. Tidak mungkin ia ditarik kembali bilamana ia telah dilepaskan. Yang menentukan ialah kemana ia diarahkan, ke sasaran yang tepat sehingga ia menghancurkan musuh, atau mengenai buruan untuk santap malam, atau malah ia menghancurkan kebaikan dan orang-orang baik. Anak panah menjadi berguna atau tidak bergantung dari busur siapa ia dilepaskan. Jika dari busur orang-orang baik jadilah ia kebaikan, sebaliknya jika ia terlepas dari busur para durjana maka jadilah ia musuh mematikan.

Ketiga, perkataan baik yang telah engkau ucap melalui kedua bibirmu. Jika perkataan buruk yang kau ucapkan, masih dapat engkau menariknya dengan permohonan maaf yang tulus. Karena itu adikku janganlah ada kata-kata kotor keluar dari mulutmu, tapi pakailah kata-kata yang baik untuk membangun.

Dua kata terbaik untukmu adikku, “terima kasih”. Jangan pernah lupa engkau berucap terima kasih kepada siapapun yang memberi manfaat bagimu.

Satu kata terbaik untukmu adikku, “kita”. Hindarilah menyebut keakuan di hadapan orang lain adikku, karena kita memang tidak bisa sendirian di dunia ini. Keakuan hanyalah kesempurnaan Tuhan terhadap makhluknya, bukan untuk kita manusia yang masih lemah dan banyak salah.

Percayalah dek,

Aku untuk Adikku

November 6, 2008

Adikku,

Kakakmu ini bukanlah orang yang bijak untuk memberikan kebijaksanaan. Bukan orang yang baik untuk menyuruhmu berbuat baik. Tapi kakakmu ini adalah manusia yang hidup lebih dulu darimu untuk menceritakan jalan-jalan yang pernah ia lalui.

Adikku,

Janganlah engkau melakukan perbuatan yang membuatmu malu menceritakannya kepada orang lain. Karena itu akan menjadi aib bagimu selamanya.

Cintailah sesuatu sekadarnya saja. Karena suatu hari kita pasti berpisah atau “dipisahkan” dengan apa-apa yang kita cinta.

Berbuatlah yang terbaik yang bisa kau lakukan, dan janganlah membohongi diri sendiri. Kebanyakan penyesalan terjadi karena kita tidak berbuat dengan sepenuh kekuatan dan sepenuh hati.

Dengarkanlah semua perkataan baik yang membangun jiwamu. Tidak perlu kau kau tanya siapa yang mengatakannya.

Berusahalah menghidari perkataan, perbuatan, dan perkumpulan yang tidak berguna. Hal yang seperti itu akan mematikan otakmu.

Pakailah kata-kata yang baik untuk membangun, karena perkataan baik tidak dapat ditarik kembali.

Sempatkan waktu untuk memikirkan dan memaknai apa-apa yang telah kau perbuat, karena itu akan membuatmu mengingat untuk apa kau hadir di dunia.

Itulah sebagian jalan pernah kakak lalui. Mungkin kau juga pernah melewatinya pada bagian kehidupanmu.

Untukmu Adikku, dari Kakakmu.

The Father’s Great Prays (2)

November 6, 2008

………………. Tuhanku

 

Aku mohon supaya puteraku jangan dipimpin di jalan yang mudah dan lunak.Tetapi kumohon engkau membimbingnya pula di dalam kesulitan dan tantangan. Memiliki daya teguh di tengah badai, serta berbelas kasih kepada mereka yang gagal.

………………………………………….dst.

Aku mohon puteraku mengenal keagungan yang asli, kepada sumber kearifn, kepada kelembutan dan kekuatan yang asli.

Dengan demikian Ya Tuhanku,

Aku memberanikan diri untuk berbisik ……………………………… “Hidupku ini tidak sia-sia”…….

(dikutip sebagian dari coretan Jenderal Douglas Mc. Arthur : “The Soldier’s Pray for His Son……”)

 

 

The Father’s Great Prays

November 6, 2008

Tuhanku,

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari, manakala ia lemah.

Dan cukup barani menghadapi dirinya sendiri, manakala ia takut.

Manusia yang selalu memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati serta jujur dalam kemenangan.

……………………………………………………………………………………dst.

(dikutip dari sebagian coretan Jendral Douglass Mc. Artur: “The Soldier’s Pray for His Son”).

Pembuka Rahasia

November 6, 2008

Pandu-pandu yang kucinta,

……………………………………………dst.

 

Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya !

…………………………………………………………..dst.

 

Masukkanlah paham itu senantiasa dalam Janji Pandumu – meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu

 

Temanmu

Baden Powel


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.